NATAL: Pengertian, Sejarah, Spiritualitas dan Maknanya bagi Kita

Apa Itu Natal?

Tulisan hari natalhari natal adalah” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir).Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Christmas biasa pula ditulis Χ’mas, suatu penyingkatan yang cocok dengan tradisi Kristen, karena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho. Dalam Alkitab bahasa Indonesia sendiri tidak dijumpai kata “Natal”, yang ada hanya kelahiran Yesus.

Sedangkan Natal dalam bahasa Portugis berarti “kelahiran”. Dalam tradisi barat, perayaan hari Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.

Ringkasnya, Natal adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari .

Gereja khususnya Gereja Katolik, mewajibkan umatnya untuk merayakan hari raya Natal. Perayaan ini bukanlah acara makan-makan besar, bukanlah sebuah festival besar, tetapi sebuah perayaan ekaristi di gereja. Jadi yang disebut perayaan natal adalah Misa Natal, yaitu perayaan ekaristi dalam rangka memperingati hari lahirnya Yesus Kristus.

Sejarah Perayaan Natal

Kapan Yesus Lahir? Pernahkah kamu bertanya kepada kakek nenek buyut kita, kapan mereka lahir? Mereka mungkin menjawab lahirnya pas Gunung Merapi meletus atau lahirnya beberapa hari sebelum gempa besar. Mereka tidak tahu tepatnya tanggal berapa mereka lahir.

Jaman dahulu orang lahir tidak perlu ke catatan sipil untuk membuat akte kelahiran. Jarang ada orang yang mencatat kapan tanggal lahir seseorang. Demikian pula Yesus, tidak ada yang tahu tepatnya tanggal berapa Ia lahir. Yosef bukan seorang kaisar, dia hanya seorang tukang kayu, tidak ada dalam pikiran dia untuk membuat sebuah prasasti untuk mencatatkan kelahiran anaknya.

Yang kita tahu dari Injil, bahwa Yesus lahir pada saat sensus kekaisaran Romawi. Mungkin sekitar abad 7SM – 2SM.

Mengapa Tanggal 25 Desember?

Pada saat kekaisaran Romawi, tanggal 25 Desember adalah hari perayaan dewa matahari. Setiap tanggal tersebut diadakan festival meriah untuk merayakan dewa tersebut. Saat itu sudah banyak orang Romawi yang menjadi pemeluk agama Kristen. Namun banyak pula umat Kristen pada masa itu yang ikut merayakan hari lahirnya dewa matahari. Para Bapa Gereja melihat bahwa budaya tersebut tidak benar. Umat Kristen tentu saja tidak boleh merayakan hari lahirnya dewa matahari.


Untuk mencegah umat Kristen datang ke festival matahari tersebut, Bapa Gereja pada saat itu membuat perayaan sendiri. Tanggal 25 Desember ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus.

Bapa Gereja mengajak umat Kristen agar tidak merayakan hari tersebut demi matahari, tetapi demi Dia yang menciptakan matahari.

Umat Kristen yang awalnya datang ke perayaan festival matahari, diajak ke gereja untuk merayakan perayaan Natal yaitu hari lahirnya Yesus. Awalnya perayaan Natal tersebut dirayakan secara sederhana, tetapi seiring dengan bertambahnya jumlah umat Kristen perayaan Natal menjadi tambah meriah.

Mengapa Yesus Lahir Tidak Pas Tahun 1?

Seperti telah disebut di atas Yesus lahir sekitar abad 7-2 sebelum masehi. Mengapa tidak tepat pas tanggal 1, bulan 1, tahun 1 masehi? Pembagian masa menjadi Before Christ(BC) / Sebelum Masehi(SM) dan Anno Domini(AD) – Masehi(M) dimulai pada abad 6 M. Pertama kali dibuat oleh seorang biarawan bernama Dionysius Exigius. Pembagian ini baru populer setelah abad ke-8, seiring dengan perkembangan umat Kristen.

Dionysius Exiguus membagi SM dan M berdasar perhitungan tabel hari raya Paskah. Perhitungan inilah yang dipakai untuk membagi dua masa tersebut. Namun dalam perhitungan modern, perkiraan tersebut salah. Beberapa perhitungan modern memperkirakan lahir Yesus 2-7 tahun lebih awal dari perkiraan Dionysius Exiguus.

Walaupun perhitungan Dionysius Exiguus salah, namun karena perhitungan tersebut sudah terlanjur populer, maka sampai sekarang penanggalan SM dan M tetap dipakai.

Mengapa Umat Kristen Merayakan Natal, padahal Dulu Para Rasul Tidak Merayakan Natal?

Para rasul tidak membuat sekolah Minggu; apakah sekolah Minggu terus dihilangkan? Para rasul tidak menggunakan musik ketika beribadat; apakah musik dalam ibadat sebaiknya dihilangkan saja?

Para rasul tidak beribadat di gereja; apakah gereja terus dihancurkan?

Para rasul memang tidak merayakan perayaan Natal. Natal baru mulai dirayakan sekitar abad ke-4 M.

Namun para Bapa Gereja berpendapat Natal adalah perayaan penting untuk memuliakan Tuhan, dan baik adanya. Oleh karena itu perayaan Natal tetap dipertahankan sampai sekarang.

Komersialisasi Perayaan Natal

Perayaan Natal saat ini tampaknya sudah bergeser dari makna natal sebenarnya. Makna Natal yang sebenarnya memperingati hari lahirnya Yesus Kristus, telah bergeser menjadi sekedar hari libur belaka.

Perayaan natal yang seharusnya dirayakan dengan mengikuti perayaan ekaristi di gereja, tampaknya sudah bergeser menjadi sekedar kumpul keluarga, makan-makan dan tukar kado.

Mall dan toko memasang pohon natal, memasang gambar santa claus, tanpa mengerti makna natal sebenarnya. Tidak ada mall yang membuat goa natal, kandang domba, patung bayi Yesus, Maria, Yosef, Malaikat dan para gembala; padahal itu penggambaran natal sebenarya.

Film yang bertema natal konon bercerita tentang ‘spirit of christmas’ ternyata hanya bercerita tentang santa claus yang kehilangan rusanya. ‘Spirit of Christmas’ yang seharusnya berfokus pada cerita kelahiran Yesus Kristus, telah bergeser menjadi orang gendut berjenggot yang kecebur sumur.

Tampaknya banyak orang ingin mengambil untung dari perayaan natal, tanpa memaknai inti perayaan natal sebenarnya.

Spiritualitas Natal

Natal Kristus adalah Kisah Solidaritas paling spektakuler dalam sejarah keselamatan umat manusia. Disebut Spektakuler karena Allah sendiri berkenan hadir dalam rupa manusia, lahir dari rahim seorang wanita yang juga manusia untuk bisa sama seperti manusia, kecuali dalam hal dosa. Sebagai Allah yang bisa melakukan apa saja, Dia bisa saja tiba-tiba turun dari langit dalam rupa seoarng pemuda gagah lagi tampan, nyatanya Dia pilih cara-Nya datang ke dunia lewat rahim seorang wanita, dalam rupa seorang bayi mungil.

Ini berarti Allah benar-benar ingin mengalami dari dekat suka-duka kehidupan seorang manusia di atas dunia ini. Apakah istilah yang tepat tentang sikap Allah ini kalau bukan SOLIDARITAS?

Maknanya bagi Hidup Kita

Kita patut meneladani sikap Tuhan dalam bentuk aksi-aksi solidaritas, tidak saja terhadap sesama tapi juga lingkungan sekitar.

Kita patut memaknai kesederhanaan Natal dalam wujud penghayatan hidup yang sederhana. Sederhana ialah:

  1. Tidak berlebihan (perhatikan fungsi sesuatu, jangan pedulikan mereknya!)
  2. Berkata dan bertindak benar (berbohong hanya menunda kebenaran diketemukan, berapa banyak waktu dan biaya yang dikorbankan menuju kebenaran itu? Katakan saja benar sebagai benar, lakukan saja benar sebagai benar maka semua kekonyolan hidup akan berhasil dihindari).
  3. Menghargai hidup (syukuri apa yang Tuhan telah berikan untuk kita, jangan ditambah-tambah lewat operasi-operasi plastik yang hanya mengubah penampilan fisik, bukan diri seutuhnya)
  4. Ketaatan pada orang tua, guru, pemuka agama, bangsa dan juga negara. Bila kita tidak taat, berarti kita menunda terlaksananya sebuah perintah maupun harapan. Bila tertunda, hitung berapa banyak waktu dan biaya juga tenaga yang terbuang sia-sia karenanya?
  5. DLL, silakan ditambahkan sendiri.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *